Senin, 10 Februari 2020

MARI PELAJARI KOTA MAKASSAR LEBIH DEKAT

Awal kota dan bandar Makassar berada di muara Sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil di wilayah itu pada penghujung abad XV. Sumber-sumber Portugis memberitakan, bahwa bandar Tallo itu awalnya berada di bawah Kerajaan Siang di sekitar Pangkajene. Pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang, bahkan menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan sekitarnya.

Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan pendangkalan sungai Tallo, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang, disinilah terjadi pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo yang kemudian membangun pertahanan benteng Somba Opu, yang seratus tahun kemudian menjadi wilayah inti Kota Makassar. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI, didirikan Benteng Rotterdam, pada masa itu terjadi peningkatan aktivitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan internasional, sektor politik serta sektor pembangunan fisik oleh kerajaan. Masa itu merupakan puncak kejayaan Kerajaan Gowa, namun selanjutnya dengan adanya perjanjian Bungaya menghantarkan Kerajaan Gowa pada awal keruntuhan. Komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah dari Maluku maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat. Dari laporan saudagar Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa peranan penting saudagar Melayu dalam perdagangan yang berdasarkan pertukaran hasil pertanian dengan barang-barang impor. Dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris, maka Makassar menguasai kawasan pertanian yang relatif luas dan berusaha pula untuk membujuk para saudagar di kerajaan sekitarnya agar pindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru Makassar.

Hanya dalam seabad saja, Makassar menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang (kota terbesar ke 20 dunia). Pada zaman itu jumlah penduduk Amsterdam, yang termasuk kota kosmopolitan dan multikultural baru mencapai sekitar 60.000 orang. Perkembangan bandar Makassar yang demikian pesat itu, berkat hubungannya dengan perubahan-perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian juga di Jawa Utara semakin berkurang mengikuti kekalahan armada lautnya di tangan Portugal dan pengkotakkotakan dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil alih oleh Kompeni Dagang Belanda (VOC) pada tahun 1641, banyak pedagang Portugis ikut pindah ke Makassar.

Sampai pada pertengahan abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara Internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di Timur Tengah.

Hubungan Makassar dengan dunia Islam diawali dengan kehadiran Abdul Ma’mur Khatib Tunggal atau Dato’ Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat yang tiba di Tallo (sekarang Makassar) pada bulan September 1605. Beliau mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I-MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDDIN (memerintah Tahun 1593-1639), dan dengan Mangkubumi I-MALLINGKAANG DAENG MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo. Kedua raja ini, yang mulai memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan. Pada tanggal 9 Nopember 1607, tepatnya hari Jum’at, diadakan shalat Jum’at pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan secara resmi bahwa penduduk Kerajaan Gowa-Tallo telah memeluk Agama Islam, pada waktu bersamaan pula, diadakan shalat Jum’at di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Jadi Kota Makassar sejak Tahun 2000, yang sebelumnya hari jadi kota Makassar diperingati pada tanggal 1 April setiap tahunnya. Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu menyebabkan sebuah “creative renaissance” yang menjadikan Bandar Makassar sebagai salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, zaman itu masih langka di Eropa namun di Makassar sudah banyak terkumpul. Makassar merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi, termasuk bola dunia dan teropong terbesar pada waktunya, yang dipesan secara khusus dari Eropa. Ambisi para pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo untuk semakin memperluas wilayah kekuasaan serta persaingan Bandar Makassar dengan Kompeni Dagang Belanda (VOC) berakhir dengan perang paling dahsyat dan sengit yang pernah dijalankan Kompeni. Pasukan Bugis, Belanda dan sekutunya dari Ternate, Buton dan Maluku memerlukan tiga tahun operasi militer di seluruh kawasan Indonesia Timur. Baru pada Tahun 1669, akhirnya dapat merata-tanahkan kota Makassar dan benteng terbesarnya, Somba Opu. Bagi Sulawesi Selatan, kejatuhan Makassar di tangan federasi itu merupakan sebuah titik balik yang berarti bahwa Bandar Niaga Makassar menjadi wilayah kekuasaan VOC, dan beberapa pasal perjanjian perdamaian membatasi dengan ketat kegiatan pelayaran antar-pulau Gowa-Tallo dan sekutunya. Pelabuhan Makassar ditutup bagi pedagang asing, sehingga komunitas saudagar hijrah ke pelabuhan-pelabuhan lain. Pada beberapa dekade pertama setelah pemusnahan kota dan bandar Makassar, penduduk yang tersisa membangun sebuah pemukiman baru di sebelah utara bekas Benteng Ujung Pandang, benteng pertahanan pinggir utara kota lama itu pada Tahun 1673 ditata ulang oleh VOC sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan diberi nama baru Fort Rotterdam, dan ‘kota baru’ yang mulai tumbuh di sekelilingnya itu dinamakan ‘Vlaardingen’. Pemukiman itu jauh lebih kecil daripada Kota Raya Makassar yang telah dihancurkan. Pada dekade pertama seusai perang, seluruh kawasan itu dihuni tidak lebih 2.000 jiwa, pada pertengahan abad ke-18 jumlah itu meningkat menjadi sekitar 5.000 orang, setengah di antaranya berupa budak. Selama dikuasai VOC, Makassar menjadi sebuah kota yang terlupakan, maupun para penjajah kolonial pada abad ke-19 itu tak mampu menaklukkan jazirah Sulawesi Selatan yang sampai awal abad ke-20 masih terdiri dari lusinan kerajaan kecil yang independen dari pemerintahan asing, bahkan sering harus mempertahankan diri terhadap serangan militer yang dilakukan kerajaan-kerajaan itu. Maka, ‘Kota Kompeni’ itu hanya berfungsi sebagai pos pengamanan di jalur utara perdagangan rempahrempah tanpa hinterland bentuknya pun bukan ‘bentuk kota’, tetapi suatu aglomerasi kampung-kampung di pesisir pantai sekeliling Fort Rotterdam.

Pada awalnya, kegiatan perdagangan utama beras di Bandar Dunia ini adalah pemasaran budak serta suplai beras kepada kapal¬kapal VOC dan menukarkannya dengan rempah-rempah di Maluku. Pada tahun 30-an di abad ke-18, pelabuhan Makassar dibuka bagi kapal-kapal dagang Cina. Komoditi yang dicari para saudagar Tionghoa di Sulawesi, pada umumnya berupa hasil laut dan hutan seperti teripang, sisik penyu, kulit kerang, sarang burung dan kayu cendana, sehingga tidak dianggap sebagai langganan dan persaingan bagi monopoli jual-beli rempah-rempah dan kain yang didirikan VOC. Sebaliknya, barang dagangan Cina, terutama porselen dan kain sutera, dijual para saudagarnya dengan harga yang lebih murah di Makassar daripada yang bisa didapat oleh pedagang asing di negeri Cina sendiri. Adanya pasaran baru itu, mendorong kembali aktivitas maritim penduduk kota dan kawasan Makassar. Terutama penduduk pulau-pulau di kawasan Spermonde mulai menspesialisasikan diri sebagai pencari teripang, komoditi utama yang dicari para pedagang Cina, dengan menjelajahi seluruh Kawasan Timur Nusantara. Sejak pertengahan abad ke-18 para nelayan-pelaut Sulawesi secara rutin berlayar hingga pantai utara Australia, selama tiga sampai empat bulan lamanya membuka puluhan lokasi pengolahan teripang. Sampai sekarang, hasil laut masih merupakan salah satu mata pencaharian utama bagi penduduk pulau-pulau dalam wilayah Kota Makassar. Setetah Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menggantikan kompeni perdagangan VOC yang bangkrut pada akhir abad ke-18, Makassar dihidupkan kembali dengan menjadikannya sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1846. Tahun-tahun berikutnya terjadi kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan kota Makassar berkembang dari sebuah pelabuhan backwater kembali menjadi bandar internasional. Dengan semakin berputarnya roda perekonornian Makassar, jumlah penduduknya meningkat dari sekitar 15.000 penduduk pada pertengahan abad ke-19 menjadi kurang lebih 30.000 jiwa pada awal abad berikutnya. Makassar abad ke-19 itu dijuluki “kota kecil terindah di seluruh Hindia-Belanda” (Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Polandia terkenal),dan menjadi salah satu port of call utama bagi para pelaut pedagang Eropa, India dan Arab dalam pemburuan hasil-hasil hutan yang amat laku di pasaran dunia maupun perahu-perahu pribumi yang beroperasi di antara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Pada awal abad ke-20, Belanda akhirnya menaklukkan daerah-daerah independen di Sulawesi, Makassar dijadikan sebagai pusat pemerintahan kolonial Indonesia Timur. Tiga setengah dasawarsa Neerlandica, kedamaian di bawah pemerintahan kolonial itu adalah masa tanpa perang paling lama yang pernah dialami Sulawesi Selatan, dan sebagai akibat ekonominya berkembang dengan pesat. Penduduk Makassar dalam kurun waktu itu meningkat sebanyak tiga kali lipat, dan wilayah kota diperluas ke semua penjuru. Dideklarasikan sebagai Kota Madya pada tahun 1906, Makassar tahun 1920-an adalah kota besar kedua di luar Jawa yang membanggakan dirinya dengan sembilan perwakilan asing, sederetan panjang toko di tengah kota yang menjual barang-barang mutakhir dari seluruh dunia dan kehidupan sosial-budaya yang dinamis dan kosmopolitan. Perang Dunia Kedua dan pendirian Republik Indonesia sekali lagi mengubah wajah Makassar. Hengkangnya sebagian besar warga asing pada Tahun 1949 dan Nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir Tahun 1950-an menjadikannya kembali sebuah kota provinsi. Bahkan, sifat asli Makassar pun semakin menghilang dengan kedatangan warga baru dari daerah-daerah pedalaman yang berusaha menyelamatkan diri dari kekacauan akibat berbagai pergolakan pasca revolusi.

Antara Tahun 1930-an sampai Tahun 1961 jumlah penduduk m   eningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000 orang, lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota. Hal ini dicerminkan dalam penggantian nama kota menjadi Ujung Pandang berdasarkan julukan ”Jumpandang” yang selama berabad-abad lamanya menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman pada Tahun 1971. Baru pada Tahun 1999 kota ini berubaha namanya kembali menjadi Makassar, tepatnya 13 Oktober berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar. Dan sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang diganti dengan Undangundang Nomor 32 Tahun 2004, luas wilayah Kota Makassar bertambah kurang lebih 4 mil kearah laut setara dengan 10.000 Ha, sehingga seluruh daratan dan lautan seluas ± 27.577Ha.

Sumber: makassarkota.go.id

Jumat, 31 Januari 2020

Wisata Bintang

KELANGKAAN BBM JENIS SOLAR

Kelangkaan BBM Jenis Solar di Makassar akhir akhir ini membuat sebagian pengusaha terkendala pada pengiriman dan pendistribusian barang akibat terhambatnya pasokan solar disebagian SPBU di Makassar.
Hal ini terjadi dibeberapa wilayah di Makassar bahkan beberapa SPBU terlihat kosong 

Belum ditahu pasti apa kendala yang terjadi di Regional Distribusi Pertamina Makassar. Namun dampak luas akibat BBM jenis solar ini dirasakan baik pada Pengusaha maupun masyarakat pengendara Mobil Pribadi.

Salah seorang Karyawan sekaligus Driver pada sebuah perusahaan mengakui lambatnya pekerjaan yang dialaminya selama ini, sementara target penjualan dari perusahaan juga harus dicapai.

BENCANA GOWA

Bencana alam tak pernah diprediksi kapan datangnya, tak seorangpun menginginkan musibah itu terjadi tinggal, kita menyikapinya dengan sebuah kesabaran, kepekaan kitalah bersama untuk turut membantu meringankan beban itu walau sedikit, bukan hanya materi, makanan dan hal lainnya, do'apun bagian dari sedekah buat mereka yang terkena musibah saat ini di Gowa, Makassar, Takalar, Je'neponto dan beberapa daerah lainnya. Hari itu kami berlima berkumpul setelah salah seorang sahabat di Gowa menceritakan tentang bencana di Gowa saat itu.
Nunu : Kalo begitu bagaimanapun duka mereka duka kita semua,

Kegiatan berbagi yang dilakukan Alumni SMEA/SMK Negeri Limbung ex Panitia Reunian Akbar hari ini di Pallangga Gowa


Duka Gowa, Takalar Je'neponto dan beberapa daerah lainnya adalah duka kita bersama, hal inilah yang dirasakan para alumni SMEA/SMK Negeri Limbung Gowa, untuk menggalang dana bersama untuk disumbangkan ke beberapa titik pengungsian di Gowa.
Kegiatan ini di koordinir oleh Bapak Harjum yang juga Ketua Panitia Reuni Akbar dan beberapa panitia lainnya  yang ikut ambil bagian dalam pemberian bantuan ini.
Menurutnya Kordinator kegiatan Alumni berbagi ini mengungkapkan bahwa.
" Duka Gowa,Takalar dan beberapa Daerah lainnya adalah duka kita bersama, semoga mereka bisa diberi kekuatan dan kesabaran "
Bantuan yang kami bawa langsung ke titik posko ini hanya sebagian kecil yang dapat membantu saudara saudara kami yang terkena dampak banjir dan longsor dalam bentuk sembako dari kami.

Penanggung jawab kegiatan Alumni Berbagi ini Ibu Waode Ramiaty ibu 2 orang anak ini mengungkapkan bahwa.

" Kegiatan yang kami lakukan hari ini merupakan bentuk kepedulian kami bersama yang walaupun hanya dalam bentuk sembako yang kami kumpulkan dari teman teman Alumni SMEA/SMK Negeri Limbung Gowa "

Dua mobil yang ikut dalam rombongan sumbangan ini menuju titik posko di Kabupaten Gowa yang rencananya akan diserahkan langsung oleh Kordinator dan penanggung jawab Alumni Berbagi dititik pengunsian pagi ini.

Jumat, 13 Desember 2019

UIT MENGANTARKU KE ISTANA

UIT MENGANTARKU KE ISTANA

Disudut meja terpajang suasana berbeda dari biasa, secangkir kopi dan sepotong kue kering, yang saya santap bersama anak anak pagi itu berbeda seperti biasanya, sebotol air yang hampir habis lalu sarapan dengan Nasi diatas Searafon, itupun saya lalui beberapa hari ini. Hujan menjadi saksi sebuah perjuangan, perjalanan disudut sudut jantung Kota Jakarta, yang memiliki ragam karateristik manusia. Suguhan suguhan kemewahan tertampilkan dengan penuh gaya dan bentuk yang berbeda, nampak sebuah pemandangan yang tak lazim yakni sebuah kemacetan luar biasa mengantarkan ku ketempat dimana aku beristirahat sejenak lalu kemudian menutupkan mata berharap esok perjuangan kita ini berbuah manis, Wisma Departemen Agama yang berada dipusat kota Jakartalah tempatku hanya menutup mata sejenak.
Pagi itu saya terbangun kembali dari kerasnya bisingan suara mesin  mobil diwisma itu, enam hari lamanya saya berada di jantung kota Metropolitan Daerah khusus Ibu Kota Jakarta, menuai harapan dan cita cita semoga dalam perjuangan ini membuahkan hasil demi kami dan mereka.
Perjalanan kemudian berakhir pada saat saya kemudian tiba di Cengkareng bersama  Bapak, Ibu, saudara, sahabat, rekan, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ketanah Makassar. Setelah menempuh perjalan kurang lebih dua jam dan tiba dengan selamat pada pukul dua belas lewat dua puluh empat menit, sayapun melanjutkan perjalanan berakhir dirumah masing masing, rasa gembira menanti harap semoga elegi esok hari tak membuat kami kecewa.
kamipun mensyukuri itu dan mengirimkan pujian pada-Nya

" Seandainya saya tdk kuliah di UIT mungkin saya tidak sampai di Istana Negara Ini. Inilah berkah yang didapatkan segelintir orang, dan saya syukuri itu "

Jumat, 24 Juli 2015

PELATIHAN PENDATA SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT Program Kerjasama PEMDA. KAB.TAKALAR-UNICEF DAN LPMT Takalar

Pelatihan bagi Pendata Program Sistem Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) Program Kerjasama Pemerintah Daerah Kab. Takalar UNICEF dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Takalar, Makassar,23/25072015.

Dalam kegiatan Pelatihan ini yang diikuti tiga Desa Project percontohan di Kabupaten Takalar yakni Desa Kalukubodo Kecamatan Galesong, Desa Soreang Kecamatan Mappakasunggu dan Desa Pa'rapunganta Kecamatan Polongbangkeng Utara. yang diwakili 6 orang perwakilan dimasing masing Desa.
Kegiatan ini pula dipandu langsung oleh Tim Fasilitator Kabupaten yang berasal dari 8 orang keterwakilan masing masing SKPD dan NGO di Kabupaten Takalar.

Penanggung jawab kegiatan Pelatihan bagi Pendata Program Sistem Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) Husain Mabe (Direktur LPMT Takalar) menyampaikan dalam sambutannya baahwa kegiatan ini berlangsung selama 3 hari ini dimaksudkan agar keterwakilan Warga dalam Pelatihan Pendata ini dapat melakukan pendataaan di Desanya masing masing yang paham dengan keadaan Desanya untuk mendapatkan data mikro yang Valid yang dibutuhkan sebagai referensi perencanaan pembangunan di Desa.

Dalam sambutannya Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar Bapak H. Ir Nirwan Nasrullah,M.Si. menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah akan membantu baik moral maupun moril dalam pelaksanaan pendataan di 3 Desa nantinya, lebih lanjut Sekda Takalar juga menyampaikan bahwa kegiatan Pendataan ini juga bagian dari pada proses perencanaan pembangunan di 3 Desa Percontohan di Kabupaten Takalar harapan kita semoga hasil pendataan nantinya akan membawa dampak positif di Kabupaten Takalar.

Selanjutnya lanjutan kegiatan ini adalah implementasi kegiatan lapangan dengan melakukan pendataan langsung di Desa Masing-masing sesuai dengan rencana kerja yang disepakati bersama dalam kegiatan ini.//(red.dengmunt)
Foto/anca/lyla_grandpalacemks2015

Foto/anca/lyla_granpalacemks2015

Sabtu, 18 Juli 2015

CALON ORANG BESAR MEMULAI PERUBAHAN

Kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan,keburukan,mau pun kelalaian. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah.

Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah,tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang bersamaan, ternyata keluarganya 'babak belur', di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap istri saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik.

Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri.Ingin mengubah Indonesia, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois.Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnyajuga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memi kirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas.

Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikir kan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupa kan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesunggu han untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan kebe ranian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk

mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani meli hat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang- orang yang sukses sejati.

Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya,inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak mengucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigi han kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya.

Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak, sulitnya mengubah istri, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri.Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan karyawan, lihat dulu diri sendiri seperti apa.

Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya.Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan.

Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan.Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut.

Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawalidari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Amien 
-
Sumber&desaign://dengmunt_Masjid.or.id/180715

Rabu, 08 Juli 2015

Ketika Do'a tak Diijabah

Mengapa Do'a Tidak Diijabah
dengmunt

Pada suatu hari Sayidina Ali Karamallaahu Wajhah, berkhutbah di hadapan kaum Muslimin. Ketika beliau hendak mengakhiri khutbahnya, tiba-tiba berdirilah seseorang ditengah-tengah jamaah sambil berkata, “Ya Amirul Mu’minin, mengapa do’a kami tidak diijabah? Padahal Allah berfirman dalam Al Qur’an, “Ud’uuni astajiblakum” (berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku perkenankan bagimu).
Sayidina Ali menjawab, “Sesungguhnya hatimu telah berkhianat kepada Allah dengan delapan hal, yaitu :
Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada mamfaatnya keimananmu itu.
Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?
Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan.
Engkau berkata, “Sami’na wa aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.
Engkau menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukti keinginanmu itu?
Setiap saat sengkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.
Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu) karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). Tetapi kau musuhi syetan dan bersahabat dengannya.
Engkau jadikan cacat atau kejelekkan orang lain di depan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.
Nah, bagaimana mungkin do’amu diterima, padahal engkau telah menutup seluruh pintu dan jalan do’a tersebut. Bertaqwalah kepada Allah, shalihkan amalmu, bersihkan batinmu, dan lakukan amar ma’ruf nahi munkar. Nanti Allah akan mengijabah do’amu itu.
***
Dalam riwayat lain, ada seorang laki-laki datang kepada Imam Ja’far Ash Shiddiq, lalu berkata, “Ada dua ayat dalam Al Qur’an yang aku paham apa maksudmu?”
“Bagaimana dua bunyi ayat itu?” Tanya Imam Ja’far. Yang pertama berbunyi “Ud’uuni astajib lakum” (Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu), (QS. Al Mu’min [40] : 60). Lalu aku berdo’a dan aku tidak melihat do’aku diijabah,” ujarnya.
"Apakah engkau berpikir bahwa Allah akan melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far.
"Tidak," jawab orang itu.
"Lalu ayat yang kedua apa?" Tanya Imam Ja'far lagi.
"Ayat yang kedua berbunyi "Wamaa anfaqtum min syai in fahuwa yukhlifuhuu, wahuwa khairun raaziqin" (Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya), (QS. Saba [34] : 39). Aku telah berinfak tetapi aku tidak melihat penggantinya," ujarnya.
"Apakah kamu berpikir Allah melanggar janji-Nya?" tanya Imam Ja'far lagi.
"Tidak," jawabnya.
"Lalu mengapa?" Tanya imam Ja'far.
"Aku tidak tahu," jawabnya.
Imam Ja'far kemudian menjelaskan, "Akan kukabarkan kepadamu, Insya Allah seandainya engkau menaati Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepadamu, kemudian engkau berdo'a kepada-Nya, maka Allah akan mengijabah do'amu. Adapun engkau berinfak tidak melihat hasilnya, kalau engkau mencari harta yang halal, kemudian engkau infakkan harta itu di jalan yang benar, maka tidaklah infak satu dirham pun, niscaya Allah menggantinya dengan yang lebih banyak. Kalau engkau berdo'a kepada Allah, maka berdo'alah kepada-Nya dengan Jihad Do'a. Tentu Alah akan menjawab do'amu walaupun engkau orang yang berdosa."
"Apa yang dimaksud Jihad Do'a?" sela orang itu.
Apabila engkau melakukan yang fardhu maka agungkanlah Allah dan limpahkanlah Dia atas segala apa yang telah ditentukan-Nya bagimu. Kemudian, bacalah shalawat kepada Nabi SAW dan bersungguh-sungguh dalam membacanya. Sampaikan pula salam kepada imammu yang memberi petunjuk. Setelah engkau membaca shalawat kepada Nabi, kenanglah nikmat Allah yang telah dicurahkan-Nya kepadamu. Lalu bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah engkau peroleh.
Kemudian engkau ingat-ingat sekarang dosa-dosamu satu demi satu kalau bisa. Akuilah dosa itu dihadapan Allah. Akuilah apa yang engkau ingat dan minta ampun kepada-Nya atas dosa-dosa yang tak kau ingat. Bertaubatlah kepada Allah dari seluruh maksiat yang kau perbuat dan niatkan bahwa engkau tidak akan kembali melakukannya. Beristighfarlah dengan seluruh penyesalan dengan penuh keikhlasan serta rasa takut tetapi juga dipenuhi harapan.
Kemudian bacalah, "Ya Allah, aku memnita maaf kepada-Mu atas seluruh dosaku. Aku meminta ampun dan taubat kepada-Mu. Bantulah aku untuk mentaati-Mu dan bimbinglah aku untuk melakukan apa yang Engkau wajibkan kepadaku segala hal yang engkau rdhai. Karena aku tidak melihat seseorang bisa menaklukkan kekuatan kepada-Mu, kecuali dengan kenikmatan yang Engkau berikan. Setelah itu, ucapkanlah hajatmu. Aku berharap Allah tidak akan menyiakan do'amu," papar Imam Ja'far.***


Sumber :kump.tausiyah/google//dengmunt

Selasa, 07 Juli 2015

ARTI SEBUAH PERJALANAN

Hidup adalah Pilihan tapi jangan salah pilih, belajar dari sebuah perjalan panjang 35 Tahun yang lalu, disebuah dusun kecil yang bernama Bayaowa sekarang lebih terkenal dengan sebutan Bayowa sebuah dusun yang tidak terlalu kecil namun banyak hal yang sangat sulit dilupakan, waktu itu andik baru berusia 9 tahun seorang lelaki polos berambut lurus,muka bundar dan warna kulit putih susu. kala itu andik baru duduk dibangku kelas 3 SDI No. 127 Bayowa,Desa Galesong Kota, Kecamatan Galesong. banyak aktifitas yang ia selalu kerjakan setiap Subuh hingga menjelang sore. mulai ia mengencangkan sarungnya untuk menunaikan sholat shubuh seperti lasimnya Islam modern seperti saat ini, dilanjutkan aktifitas hariannya membantu ibu (amma), jualan putu cangkir seputar dusunnya hingga matahari benar benar terbit menyinari bumi pertiwi ini.

Pekerjaan lainnya adalah sekolah pagi sebagai aktifitas rutinnya jualan disampingnya itu, selain jualan putu cangkir andik juga jualan es, sepulang dari sekolahnya hingga sore hari. itulah sisih lain bocah kecil waktu itu.
Kemudian setelah tamat di SD Inp. Bayowa dilanjutkan di Sekolah Menengah Pertama Negeri Galesong di tahun 1991 masa itu pun tak jauh bedanya aktifitasnya hingga menjelang kelas 3 SMP Waktu itu jualan masih berjalan nanti setelah kelas 3 waktu itu aktifitas hariannya mulai hilang namun tergantikan dengan aktifitas lain, jadi buruh bangunan dikala waktu libur datang dan bantu orang tua diwaktu musim panen tiba disawah. tak ada waktu kosong baginya dalam hidup dan kehidupannya semua terisi dengan kesibukan berarti hanya untuk membantu orang tuanya demi kelanjutan ekonomi rumah tangga dan sekolahnya.

setelah masuk di Sekolah Menengah ekonomi Atas Negeri Limbung Kab. Gowa, aktifitas juga banyak berubah karena mereka sudah tumbuh menjadi dewasa, remaja yang berumur belasan, pergaulan hidup, life style juga berubah, jalan sahabat sebanyak banyak karena tipenya adalah pergaulan yang banyak mendapatkan teman yang baik pula. ia salah seorang siswa rajin disekolah waktu itu tak ada cacat sekolah, jauh dari sikap kenakan remaja aktifitasnya hanya seputar kegiatan ekstra kurikuler, kegiatan OSIS, kepramukaan, palang merah dll yang tak bisa terukir dengan tinta hitam, yang jelasnya jauh dari kenakalan remaja umumnya.

Senin, 29 Juni 2015

RENUNGAN RAMADHAN 1436 H

Kepompong Ramadhan



Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu, kecuali shaum. Maka sesungguhnya shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya (Hr. Bukhari Muslim).

Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang, ulat bulu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tidak lama. Pada saatnya nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masuk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain : ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian, siapa yang tidak menyukai kupu-kupu dengan sayapnya yang beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksinya bagi sebagai hobi (hiasan) ataupun untuk keperluan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudahnya bagi Allah Azza wa Jalla, mengubah segala sesuatu dari hal yang menjijikkan, buruk, dan tidak disukai, menjadi sesuatu yang indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturannya pun ditentukan oleh Allah, baik dalam bentuk aturan atau hukum alam (sunnatullah) maupun berdasarkan hukum yang disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur'an dan Al Hadits.

Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia, maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yang jauh lebih indah, momen yang paling tepat untuk terlahir kemabli adalah ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam 'kepompong' Ramadhan, lalu segala aktivitas kita cocok dengan ketentuan-ketentuan "metamorfosa" dari Allah, niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yang berderajat muttaqin, yang memiliki akhlak yang indah dan mempesona.

Inti dari badah Ramadhan ternyata adalah melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman, 

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya." (QS. An Nazii'at [79] : 40 - 41).


Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yang ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tidak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah, yang sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan. apalagi seperti halnya hawa nafsu, syetan pun memiliki dimensi yang sama dengan hawa nafsu yakni kedua-duanya sama-sama tak terlihat.

 "Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala," demikian firman Allah dalam QS. Al Fathir [25] : 6)


Akan tetapi kita bersyukur karena pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuhnya untuk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karenanya kesempatan seperti ini tidak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lainnya agar mau melaksanakan amalan yang disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan, maka ketika syetan dipelas kembali, mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian, hidup kita pun sepenuhnya dapat dijalani dengan hawa nafsu yang berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yang paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yang sarat dengan berkah ini adalah akhlak. Barang siapa membaguskan akhlaknya pada bulan Ramadhan, Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir, demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan ini, kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah, Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamunya dengan baik. Akan tetapi sesungguhnya Allah hanya akan memperlakukan kita dengan baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satunya yakni dengan menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah, karena tidak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yang dijalani hidup kita, jangan sampai disia-siakan.

Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah 'kepompong' Ramadhan ini kita masuki, kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yang baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yang keluar menjadi seekor kupu-kupu yang teramat indah dan mempesona, amiin.***
Sumber : Google/MQ-AAGYM//dengmunt@

Minggu, 14 Juni 2015

KERAJAAN GALESONG


Asal Usul Kerajaan Galesong
"Nama Raja Galesong, Mattinroa Ri Bobojangan, sebenarnya bukan nama yang sesungguhnya, tapi gelar. Sebab, kala itu nama asli raja dilarang untuk disebut atau dikenal khalayak. Yang jelas, beliau adalah keluarga dekat dari I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape atau Sultan Hasanuddin." Papar  Karaeng Gassing, salah seorang Tokoh Pemangku Adat karaeng Galesong.

"Berdasarkan yang tercatat dalam lontara, gelar Mattinroa Ri Bobojangan disandangnya karena beliau mangkat dan dikebumikan disuatu tempat yang bernama Bobojangan. Nama itu pun terus melekat dan menjadi hal yang sangat sakral," lanjut Papar  Karaeng Gassing.

Mulai saat itu, tepatnya abad XVI, terbentuklah Kerajaan Galesong yang dinakhodai Mattinroa Ri Bobojangan. Galesong yang awalnya dirancang menjadi pelabuhan niaga di samping sebagai pelabuhan pemecah ombak dari Pulau Sanro Bengi, berperan sebagai basis pertahanan pantai dari pemerintahan Sombaya Ri Gowa.

Atas kekokohan pertahanan yang terbangun di Kerajaan Galesong, Sombaya Ri Gowa membina kesatuan dengan Karaeng Galesong untuk melawan kekuasaan Belanda di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.


Hilangnya benda tersebut, pappekang ini juga mengaku kalau bermacam-maca suara gaib yang didengarnya sontak menghilang. Dari laporan inilah, Daengta Lowa-Lowa, kemudian mengklaim bahwa peristiwa tersebut kemungkinan rahmat dari Allah SWT yang ditujukan untuk kemaslahatan Galesong dan masyarakatnya.

Menurut dia, peristiwa yang dialami pappekang juga dialami Daengta Lowa-Lowa, yang ikut memancing karena penasaran akan informasi tersebut. Kemudian, temuan itu juga disampaikan Daengta Lowa-Lowa kepada tokoh masyarakat lainnya yaitu, Boe Janggo, yang pada pekan depannya melaut untuk menelusuri asal muasal suara tersebut.

Pada tahun 1914  Kerajaan Galesong yang  di  Pangku Oleh Karaeng Larigau Dg. Mangingruru  yang berakhir pada tahun 1951, kemudian  selanjutnya  pada tahun 1952 sampai dengan 2009 dilantiklah  A.J.Bostan Karaeng Mamad’ja sebagai Pemangku Adat Karaeng Galesong, nama pemangku adat ini sebagai pengganti nama kerajaan karena tidak memungkin lagi pada struktur ketatanegaraan di Indonesia. Kerajaan Gowa dan Galesong tidak bias terpisahkan pada saat itu.

Perlawanan Karaeng Galesong dan Trunajaya di Malang

Setelah Trunajaya dapat merebut keraton Mataram pada tanggal 28 Juni 1677 ia segera membawa berbagai pusaka kerajaan ke markasnya di Kediri. Sementara pasukan Makassar di bawah Karaeng Galesong bergerak menuju Bangil untuk membuat kubu pertahanan. Sangat disayangkan kemudian terjadi perselisihan antara Trunajaya dan Karaeng Galesong karena masalah keluarga. Karaeng Galesong sendiri adalah menantu Trunajaya sebagai tanda persekutuan mereka. Pada 5 September 1678 pasukan gabungan Kompeni dan Mataram bergerak menuju Kediri di bawah Anthonie Hurd dan Sunan Amangkurat II. Pasukan ini bergerak dari Jepara melewati Grobogan, Grompol, Kajang, dan Madiun di mana pasukan Kapten Tack bergabung setelah menempuh Keduwang dan Panaraga. Lalu pasukan bergerak ke Singkel untuk persiapan menyerang Kediri. Terjadi pertempuran sengit di Tukon dan dengan susah payah Singkel dapat dikuasai. Pasukan Tack di Grompol juga dihadang pasukan berkuda Trunajaya.
Kondisi politik kemudian memihak pihak Trunajaya setelah gagalnya perundingan antara Kompeni dan Karaeng Galesong. Karaeng Galesong berusaha mencari bala bantuan yang kuat bagi pihak Trunajaya. Pada 17 November 1678 pasukan Kompeni menyeberangi Sungai Brantas dengan dilindungi tembakan lima buah meriam. Beberapa hari kemudian (25 November 1678) barulah dilakukan serangan umum. Akhirnya karena kekuatan musuh jauh lebih besar Trunajaya terdesak dan berhasil menyingkir ke arah timur. Pusaka-pusaka keraton termasuk mahkota Majapahit jatuh ke tangan Kompeni dan diserahkan kembali kepada Sunan Amangkurat II pada 27 November 1678.
Setelah jatuhnya Kediri, Trunajaya menyingkir ke Blitar dan akhirnya menuju Malang dalam kesulitan mencari tempat pertahanan baru. Trunajaya kehilangan 400 orang prajurit akibat penyakit dan kekurangan bahan makanan. Lebih-lebih lagi, pengiriman bahan bantuan berupa 8 perahu bahan makanan dari Madura untuk pasukan Trunajaya jatuh ke tangan musuh. Tekanan dan kepungan Kompeni kepada pasukan Trunajaya yang sudah makin melemah karena kekurangan bahan pangan dan serangan penyakit semakin berat. Beliau terpaksa membawa memutar pasukannya berpindah ke Batu. Dalam keadaan serba sulit, Trunajaya mendapat dukungan dari daerah-daerah seperti Kediri, Panaraga dan Kertasana. Sebanyak 500 orang prajurit Madura dikirim melalui Wirasaba ke Malang untuk memperkuat barisan Trunajaya. Saat di Batu ini, istri Trunajaya meninggal dunia karena terserang penyakit, menyusul kemudian satu-satunya putra lelakinya juga wafat. Dari Batu Trunajaya beserta pasukannya bergeser mengatur strategi pertahanan ke Ngantang. Sementara semakin lama jumlah kekuatan pasukan semakin berkurang, kekurangan bahan pangan dan serangan penyakit. Masih beruntung keadaan alam yang berupa pegunungan serta hutan rimba di Ngantang menghambat laju tekanan pasukan Kompeni.
Sedangkan karena perundingan gagal, pasukan Karaeng Galesong membuat kubu pertahanan di Bangil dan Kapar, sebelah utara Sungai Porong. Kompeni meminta bantuan Arung Palakka dari Bone untuk menangkap Karaeng Galesong. Pada tanggal 23 Agustus 1679 pasukan gabungan Bugis dan Kompeni di bawah Jacob Couper berangkat dari Surabaya menuju ke Kapar, markas pertahanan Karaeng Galesong. Pihak Kompeni memberi ultimatum kepada pasukan Makassar untuk menyerah. Beberapa pemimpin pasukan Makassar memenuhi permintaan itu pada tanggal 30 Agustus di antaranya Daeng Tulolo. Mereka menyatakan akan bersedia untuk menyerah. Namun tidak ada tindak lanjut dari pertemuan tersebut. Akhirnya Kompeni memutuskan menyerang Kapar pada tanggal 8 September 1679 di bawah pimpinan Arung Palakka. Sebelumnya Kapten Joncker dan pasukan Ambonnya berusaha merebut Kapar namun gagal. Pada tanggal 21 Oktober 1679 Kapar jatuh ke pasukan gabungan dalam pertempuran yang sengit dan banyak jatuh korban.
Serangan kemudian ditujukan kepada pertahanan Trunajaya, yaitu yang berpusat di Batu. Di situ dibangun semacam keraton yang dikelilingi oleh pagar. Pengikutnya diperkirakan hanya berjumlah sekitar seratus orang dan mengalami kekurangan makanan. Pasukan Makassar di bawah Karaeng Galesong juga mengundurkan diri ke Malang. Dengan jalan perundingan, van Vliet, komandan pasukan Kompeni, mencoba mengadakan perdamaian. Persetujuan akhirnya tercapai dengan ketentuan bahwa pasukan Makassar tidak akan menghalang-halangi pasukan Kompeni dalam melakukan serangan terhadap Trunajaya. Karaeng Galesong juga berjanji bersedia untuk dipulangkan ke Makassar. Setelah mendengar akan kejadian itu Trunajaya segera memindahkan Karaeng Galesong ke Ngantang. Namun sebelum adanya pengaturan yang pasti, Karaeng Galesong meninggal karena sakit pada 21 November 1679. Karaeng Galesong kemudian dimakamkan di Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang sekarang. Oleh warga sekitar makam itu disebut sebagai makam Mbah Rojo. Lokasinya sekitar 5 km dari obyek Wisata Bendungan Selorejo.
Sebelum meninggal, Karaeng Galesong menunjuk putranya yang berusia sekitar 17 tahun, Karaeng Mamampang, sebagai penggantinya untuk menghindari perselisihan di antara orang Makassar. Karaeng Mamampang mengikuti keinginan ayahnya dan membujuk pengikutnya untuk diberangkatkan ke Makassar. Sekitar 120 orang mengikuti perintahnya, tetapi sekitar 900 menolak dan tetap bergabung dengan Trunajaya.
Jacob Couper berusaha menghubungi Trunajaya dengan surat akan tetapi tidak berhasil. Akhirnya Kompeni memutuskan untuk mengadakan serangan ke Ngantang. Di Kalisturan, di kaki pegunungan Batu, pasukan Bugis menemukan 50 lelaki, wanita, dan anak-anak Makassar dalam keadaan kelaparan. Mereka mengatakan bahwa 300 lainnya berada di pegunungan namun tidak dapat turun menyerahkan diri karena jalan di Gunung Rarata (Ngrata) ditutup pasukan Madura. Esok paginya pasukan Bugis merebut kubu Madura di Rarata dengan serangan mendadak. Mereka memaksa pasukan Madura melarikan diri lebih ke atas gunung. Pasukan Madura mundur ke garis pertahanan kedua, yang berupa dua dinding bambu yang saling berhadapan dan dipisahkan oleh sungai kecil yang efektif menahan pergerakan naik atau turun gunung. Arung Palakka bersama sekelompok pasukan berputar mencari jalan untuk menyerang dari belakang. Sementara itu, kapten Belanda van Vliet menuruni lembah gunung dengan pasukan Bugisnya dan secara tiba-tiba menyerang dari atas, sehingga yang diserang pun lari berhamburan dengan menunggang kuda. Pasukan Bugis mengejar mereka selama hampir dua jam dan tiba di sebuah perkubuan besar pasukan Makassar dan Madura. Pasukan Belanda tiba setelahnya, tapi sebelum serangan dilancarkan, hujan mulai turun dan kabut tebal pun datang. Ketika pasukan Bugis dan Belanda tiba di perkemahan, di Ngantang, pada hari berikutnya, mereka telah melarikan diri kecuali empat bangsawan Makassar beserta 300 orang, wanita, dan anak-anak. Mereka memberi tahu Arung Palakka bahwa masih ada sekitar 1.500 orang Makassar, tidak termasuk wanita dan anak-anak, yang berada di bagian atas gunung.
Pada saat-saat pihak Trunajaya terdesak timbullah ketegangan antara Sunan dan Arung Palakka. Sebabnya adalah bahwa menurut desas-desus dan persaksian orang-orang tertentu ada hubungan antara Arung Palakka dengan Trunajaya. Yang pertama telah menerima hadiah dari yang terakhir sebagai sebuah usaha penyuapan. Ada ajakan dari pihak Trunajaya untuk bersama-sama pergi ke Majapahit guna mendirikan benteng di sana. Kenyataannya adalah bahwa Sunan menjauhkan diri dari Arung Palakka dan pihak Kompeni tidak mengikutsertakannya dalam operasi penangkapan Trunajaya. Terhadap Trunajaya sendiri Sunan menjalankan taktik baru, yaitu bersikap bersahabat dan menganggap dia sebagai kawula. Sebaliknya Trunajaya masih berusaha membujuk Sunan agar memisahkan diri dari persekutuannya dengan Kompeni karena rakyat Jawa akan dinasranikan oleh Kompeni. Sunan berketetapan hati untuk bersekutu dengan Kompeni.
Selanjutnya di sebuah gunung yang bernama Kunjangan pasukan Belanda dan Bugis melakukan pengepungan. Mereka berharap membuat orang Makassar dan Madura kelaparan dan keluar dari persembunyian. Setelah beberapa lama seseorang bernama Tumenggung Wirapaksa turun dengan bendera putih menuju Arung Palakka dan mengatakan bahwa dia dikirim langsung ke Arung Palakka oleh tuannya Trunajaya. Arung Palakka berkata padanya, “Marilah turun gunung menuju Komandan [Belanda] di mana kau bisa menyampaikan pesanmu.” Tetapi Tumenggung menolak. Dia mengatakan bahwa pesan ini bukan untuk Kompeni tapi untuk Arung Palakka sendiri. Jawaban Arung Palakka memperlihatkan tujuannya tidak memusuhi Trunajaya tetapi untuk menangkap Karaeng Galesong: “Saya tidak berperang dengan Sultan [Trunajaya] dan karena itu tidak perlu berdamai dengannya. Saya di sini atas nama Kompeni dan menuruti perintah Komandan.”
Gagal membujuk Arung Palakka, utusan Trunajaya kembali ke gunung. Belanda kemudian memberitahu orang-orang Makassar di perkemahan Trunajaya bahwa jika mereka menyerah akan diperlakukan dengan baik. Tapi jika menolak, akan dihancurkan. Sekitar 2.500 orang memutuskan untuk menerima tawaran ini dan turun dari kubu pertahanan di gunung pada tanggal 15 Desember 1679. Jumlah rombongan ini mengejutkan Belanda yang menganggap mereka beruntung karena orang-orang Makassar ini memutuskan menyerah daripada bertempur. Untuk penyegaran, Jacob Couper digantikan oleh Kapten Joncker sebagai komandan pasukan Kompeni. Lima hari kemudian pada 20 Desember 1679 beberapa ratus orang Madura dan Makassar, di antaranya para wanita dan beberapa ekor kuda turun dari lereng gunung dan segera ditangkap pasukan Kompeni pimpinan Kapten Joncker.
Ditinggal sekutu Makassar mereka, Trunajaya melarikan diri melalui hutan dengan semak berduri di belakang kubu pertahanan dan pergi ke Pugar. Selama hari-hari terakhir perlawanan Trunajaya hanya terdapat 25-30 orang Makassar yang masih bersamanya. Dengan mengorek keterangan dari orang Makassar yang tertawan, Kapten Joncker berhasil mengepung Trunajaya di Gunung Limbangan (di lereng utara Gunung Kelud) di mana dia beserta barisannya hendak bertahan terakhir. Sunan pun bergerak mendekati tempat itu dan menghendaki agar setelah Trunajaya ditangkap diserahkan kepadanya. Dalam keadaan sangat terjepit, Trunajaya mengirimkan utusan tiga kali, akan tetapi waktu sudah lewat untuk mengadakan perundingan. Terkepung dari segala penjuru dan bahaya kelaparan sangat melemahkan moral barisan yang kira-kira masih terdiri atas 3.000 orang itu. Tidak ada jalan lain daripada menyerah. Akhirnya Trunajaya menyuruh pengikutnya mengumpulkan tombak dan kerisnya, lalu menyerah kepada Kapten Joncker. Terlebih dulu dikirim para wanita dan abdi biasa, baru kemudian Trunajaya beserta pengikutnya, antara lain Pangeran Mugatsari, Anggakusuma, Ngabehi Wiradersana, dan pasukan Makassar menyerahkan diri pada 25 Desember 1679. Kedua tangan beliau diikat dengan cinde sutera. Diberitakan kemudian bahwa di dalam tawanan Trunajaya masih mempunyai rencana mengadakan perlawanan, maka dari itu Sunan menuntut supaya dia segera diserahkan kepadanya. Untuk menepati sumpahnya, keris Kyai Balabar tidak akan diberi sarung besar sebelum dipakai untuk menusuk dada Trunajaya. Di sekitar tapal batas Kediri, Sunan menikam Trunajaya dengan keris tersebut, kemudian para menteri secara bergiliran memberikan tikamannya pula (2 Januari 1680).
Makam Karaeng Galesong di Jawa Timur-Ngantang
Sejarah menuturkan,perjuangan Karaeng Galesong berlanjut ke tanah Jawa. Ia berlabuh diwilaayah timur pulau Jawa dengan jumlah pasukan yang besar. Belum ada data yang jelas namun ada yang mengatakan lebih dari 4000 prajurit. Dimasa itu di wilayah jawa Timur terdapat penguasa besar ini saling bermusuhan. Karaeng Galesong diakrabi oleh Trunojoyo dan mendapat restu menikahi keponakan Trunojoyo.

Pelarian Karaeng Galesong ketanah Jawa dikarenakan kekalahan kerajaan Gowa oleh Belanda pada tahun 1669. Ia tidak ingin berada dibawah jajahan Belanda, karenanya memilih untuk meninggalkan tanah Gowa bersama beberapa kerabat kerajaan. Mereka anatara lain Karaeng Tallo. Sultan Harunarrasyid Tumenanga ri Lampanna dan daeng Mangappa, saudara kandung karaeng Tallo. Dua lainnya paling terkenal adalah Karaeng Galesong Tumenanga Ritappana, dan Karaeng Bontomarannu Tumma Bicara Butta Gowa.

Sebelum perkawinan Karaeng Galesong, Turnojoyo meminta Karaeng galesong dengan Pasukannya menyerang Gresik dan Surabaya yang berada dalam kekuasaan Adipati Anom, Pasukan Karaeng Galesong seperti ditulis ahli sejarah Belanda, Degraff, karaeng galesong, berhasil mengobrak  abrik pasukan Adipati Anom yang kemudian lari kejawa Tenga.

Menurut catatan sejarah, pada 21 November 1679 sang panglima wafat di daerah Ngantang Kabupaten Malang. Kisah kematiannya diperoleh sejarawan Leonard Andaya dari Kolonel Archief, yang catatannya sekarang masih tersimpan rapi di Denhag.
Abadi di Ngantang Adalah, sebuah daerah di Kabupaten Malang, tidak jauh dari kota Batu yang menjadi peristirahatan terakhir sang Karaeng. Daerah ini sejuk dan asri, dan disinilah terdapat sebuah pemakaman yang luasnya sekitar seratus meter persegi, dengan beberapa pohon kamboja tua.
Suasana pemakaman Nampak bersih, hanya terdapat beberapa batu nisan dengan tatanan batu batu tua yang sudah berlumut dan sebuah gundukan agak memojok dengan nisan yang telah berlumut pula. Diyakini pula makam ini adalah kerabat Karaeng Galesong, tidak jauh dari gundukan tersebut, terdapat batu nisan dari marmer yang tampak belum begitu lama dipasang. Disinilah makam Karaeng Galesong berada.kuburan yang ditata dengan tumpukan batu bata dipenuhi lumut. Diantara nisan dan kuburan, berdiri tegak tiang sekitar satu meter dengan bendera merah putih. Dibawah kibaran bendera terdapat tulisan “ Pejuang”

Pada prasasti marmer dikuburan itu terukir tulisan dengan warna emas menggunakan bahasa Arab yang terjemahan bebasnya berarti. “ disinilah dimakamkan seorang pejuang yang berjuang dijalan Allah.” Dibawah prasasti itu terdapat tulisan nama sebuah kelompok pengajian yang menyebut diri warga Malang keturunan Galesong.
Masyarkat Bugis Makassar di Malang memang  banyak bermukim di Malang dan Sekitarnya, Karaeng salah satu artikel dibuletin Anging Mammiri yang diterbitkan oleh KKSS Malang Raya.
Salahuddin Basir menuliskan bahwa Dr. Wahidin Sudirohusodo, motor pergerakan Budi Utomo masih merupakan keturunan Galesong. Pada tahun 60-an, seorang guru di Universitas Gajah Mada bernama Prof. Mr. Djojodiguno, pakar Hukum yang terkenal, sering bertutur kepada mahasiswanya bahwa ia berdarah Makassar, merupakan keturunan Karaeng Galesong. Tentu kita juga masih ingat Setiawan Djodi, seniman dan budayawan yang di nobatkan sebagai keturunan Karaeng Galesong beberapa tahun lalu.
Karaeng Galesong adalah Putra dari Sultan hasanuddin, Ayam jantan dari Timur yang melarikan diri ketika kerajaan Gowa/Bone dikalahkan Belanda dan melarikan diri ke Tanah Jawa.
Keberadaannya baru diketahui ketika ada upaya menjadikan Karaeng Galesong ini sebagai Pahlawan Nasional. Sampai sampai data tentang desa tempat dia mengasingkan diri dicari sampai dibuku buku peninggalan Belanda di Musium Laeiden.
Demikian kisah ini semoga menjadi rujukan bagi kita bahwa Galesong merupakan Tempat bersejarah yang menorehkan banyak cerita cerita sejarah serta Perjuangan yang patut kita banggakan.

Dikutip dari beberapa Sumber berita dan diambil langsung dari Prof . H. Aminuddin Salle, budayawan sejarah Karaeng Galesong *red)
 
Makam Krg. Galesong di Ngantang-Jawa Timur

Sabtu, 13 Juni 2015

ORIENTASI SIPBM SISTEM INFORMASI PEMBANGUNAN BERBASIS MASYARAKAT

Orientasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) 
Kerja sama
PEMDA KAB.TAKALAR-UNICEF & LPMT-Takalar
Kegiatan ini berlangsung selama 2 hari di Aula BAPPEDA Kab. Takalar yang dibuka secara resmi Oleh Bapak Sekretaris Daerah Kab. Takalar Ir. H. Nirwan Nasrullah,M.si, kegiatan ini diikuti beberapa SKPD,Camat, Kepala Desa, unsur LSM dan Pers.(12-13 juni 2015).
Dalam kegiatan Orientasi ini bertujuan untuk melatih peserta bagaiman proses pendataan berbasis masyarakat yang akan meghasilkan data yang akurat yang dapat di Update setiapa saat di masing masing desa, sehingga proses sampai dengan analisis data akan lebih akurat, bukan hanya proses pendataan melainkan proses perekrutan pendata yang mempunyai kapasitas dan kemampuan serta loyalitas yang tinggi sehingga membutuhkan orang lokal yang mampu menjalankan kegiatan pendataan ini.